KUGANTUNGKAN CITA-CITAKU SETINGGI
POHON BERINGIN TUA SAJA
Aku seorang manusia yang dipanggil
dengan sebutan ‘mahasiswa tahun akhir’.
Entah mengapa setiap orang yang memanggilku dengan sebutan ini seperti
meninggalkan konotasi negatif yang merong-rong masuk lubang telingaku kemudian
jatuh seperti dentuman keras menimpa gendang telingaku. Aku hanya bisa
nyengir-nyengir kuda kalau sudah begitu. Merasa terhina dengan sebutan itu
mengingat aku telah menghabiskan dua kali 365 ¼ hari untuk menyelesaikan sebuah
maha karyanya mahasiswa yang disebut dengan ‘skripsi’. Ya kurang lebih dua
tahun aku bergumul dengan rentetan aksara tak beraturan yang dengan sedikit
keteraturan akan bermakna. Putus asa? Ya saat ini aku sedikit putus asa. Marah?
Ya aku merasa sedikit marah. Rasanya ingin membakar seluruh gedung kampus ini
hingga menjadi butiran debu.
Sore
ini tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku duduk manis di depan
kantor jurusan. Memandangi pintu yang kokoh berdiri dihadapanku. Pintu itu
tertutup, berharap orang yang ada di dalam segera membukakan pintu sehingga aku
bisa masuk agar bisa merasakan sedikit kelegaan. Ya setidaknya kedatanganku
sore ini tidak sia-sia seperti hari-hari sebelumnya. Di depan pintu itu
tergantung papan kecil bertulisan, “YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK!”.
Huruf kapital yang menyusun kalimat itu seolah menegaskan dan menghakimiku agar
tetap duduk manis dan menahan hasratku untuk membuka gagang pintu itu sebelum
dipanggil empunya ruangan. Tanda seru diakhir kalimat itu seolah menembakku
tepat di kepala ‘dooorrr!!’ lalu aku
berakhir sebagai mahasiswa tahun akhir di semester terakhir. Oh begitu
tragisnya..
Membayangkan
betapa tragisnya nasibku bila itu terjadi membuat ku tertawa-tawa sendiri.
Ya tertawa sendiri seperti orang yang
kurang waras. Aku memilih tertawa daripada menangis karena tiap tetes airmataku
terlalu berharga jika hanya jatuh untuk menghadapi masalah seperti ini. Tapi
apa iya ini adalah sebuah masalah? Pandanganku kemudian melayang kepada sebuah
pohon beringin yang berdiri kokoh memayungi sebuah palang yang bertuliskan,
“JURUSAN ILMU SUSASTRA UNIVERSITAS BAKTI NEGARA.” Sungguh merinding aku dibuatnya.
Bukan karena memandangi pohon beringin yang berkemungkinan ada penghuninya,
tapi memandangi tulisan di palang itu. Tulisan yang menandai tempat aku
terpenjara selama ini. Tempat dimana aku hampir-hampir saja menjadi mahasiswa
abadi. Kubuyarkan pikiran-pikiran negatifku dengan menegak air mineral yang
sedari tadi setia menemani penantianku. Kulayangkan kembali pandanganku kepada
pohon beringin yang sudah bertahun berdiri kokoh di sana. Aku bertanya-tanya
apa yang membuat pohon itu begitu betah berdiri di sana selama bertahun-tahun?
Aku
terhenyuk, terdiam sendiri memikirkan pertanyaan- pertanyaan bodohku sendiri
yang lalu lalang daritadi. Tidak ada teman, tidak ada siapapun di sini kecuali
aku dan kegalauanku terhadap skripsi. Teman- teman sejawat sudah lama
meninggalkanku. Satu persatu mereka pergi meninggalkanku sendiri di sini. Aku
yang masih terpenjara dan diam tanpa kata terus berpikir dan bertanya-tanya di
dalam hati. Apa iya skripsi ini sebuah masalah? Masalah yang telah mempersuram
kehidupanku beberapa tahun belakangan? Ini salah siapa?, ‘Dosa siapa? Ini dosa siapa? Salah siapa? Ini salah siapa?’, begitu
kata Om Ebiet.G ade dalam salah satu lirik lagunya. Aku pandangi lagi pohon
beringin tua nan kokoh itu. Aku lihat diriku, seperti berkaca seluruh badan.
Aku sadari sesuatu bahwa aku masih muda dan energik. Tetapi mengapa aku tidak
bisa sekokoh pohon beringin tua itu? Angin semilir menerbangkan dedaunan kering
dari pohon itu dan berserakan di hadapanku membuyarkan lamunan panjangku.
Kuambil salah satu daun itu, ku pandangi, ku bolak-balik, lalu ku cabik-cabik.
Kukendalikan pikiranku, kuambil salah satu sifat dari pohon itu. “Aku harus
kuat!”, tiba-tiba hatiku berseru. Aku harus kokoh dan kuat seperti pohon
beringin tua itu yang akarnya menancap kuat di tanah tempatnya berdiri. Tidak tumbang
di sapu badai, tidak lekang oleh waktu. Aku harus berhenti mengeluh, yang harus
aku lakukan adalah terus maju dan berjalan. Aku merasakan kupu-kupu yang banyak
sedang beterbangan dan bercengkrama dalam perutku. Layaknya pasangan yang
sedang jatuh cinta pada pandangan
pertama, aku mulai jatuh cinta pada skripsiku.
Sembari
gelombang cinta nan syahdu menggelitik perut dan hatiku, pohon beringin tua ini
masih saja tidak luput dari pandanganku. Pertanyaan- pertanyaan bodoh pun
kembali mengalir seperti hulu menemukan hilirnya. Apakah iya dengan sekadar
kuat saja pohon beringin tua itu bisa bertahan? Mengapa pohon beringin tua ini begitu
setia berdiri di sini? Apa yang membuatnya begitu betah di sini? Makanan?
Mungkin dia bisa saja tumbuh di tempat lain yang lebih banyak air dan subur.
Apa keuntungan yang di dapat oleh pohon ini? Aku tertegun kembali, memandang
pohon itu hingga sampai memandang apa yang tak terlihat. Realitas yang berjarak
sejengkal tetapi seperti tidak akan pernah tergapai. Tak mau ambil pusing,
kulayangkan pandanganku ke bangku taman jurusan. Aku melihat kelompok anak-anak
sastra dari kalangan senior. Ya mereka yang bernasib hampir sama denganku,
namun lebih beruntung karena akan segera diwisuda bulan September depan. ‘September Ceria’, itulah kira-kira tembang
yang pas digunakan untuk menggambarkan perasaan mereka sekarang menyambut
detik-detik upacara wisuda mereka. Mungkin aku akan menggubah sebuah lirik lagu
baru yang berjudul ‘September Kelabu.’
Mereka begitu
ceria, sangat kompak dan bersemangat. Aku di sini hanya sendiri, menyepi,
berpikir dan bisa jadi tersingkir dari arena. Namun, kesendirianku tidak
berlangsung begitu lama hingga seseorang dari mereka berlajan menghampiriku.
Aku tersenyum sedangkan dia malah mencibirkan ku sambil mengejekku, “Hey!
Pelangi sudah tidak lagi berwarna warni ya?” Aku tertawa simpul lalu
membenarkan pertanyaan sekaligus pernyataannya, “Yap..sepertinya sekarang
pelangi sudah berwarna kelabu.” Ayo saya coba warnai lagi, timpanya sambil
tertawa terbahak-bahak. Aku pun terdiam.
Tawanya
memancingku untuk menanyakan hal yang sama kutanyakan pada diriku sendiri
beberapa waktu yang lalu. “Bang Kafka, pernah kepikiran tidak mengapa pohon
beringin tua yang memayungi palang nama jurusan kita itu begitu setia berdiri
di sana? Apa keuntungannya buat dia? Dia bisa saja mendapatkan tempat yang
lebih subur untuk tumbuh.” Bang Kafka hanya tersenyum, untuk beberapa saat kami
terdiam. Aku pandangi bola matanya yang coklat terang berharap mendapatkan
jawaban yang tepat sementara dia terpana memandangi pohon beringin tua itu. “Ikhlas”,
jawabnya singkat. Aku terperangah kemudian kemudian aku bertanya lagi,
“Bagaimana keikhlasan itu bisa tercipta Bang apalagi jika melakukan sesuatu
yang membuat kita merasa terpaksa melakukannya?.” Pandangannya semakin
mengerucut dan itu diarahkannya kepadaku. Betapa ciutnya nyaliku melihat
tatapan dari mata elangnya yang tajam.
Dia
menjawab pertanyaanku dengan nada tenang nan pasti, “Kesabaran adalah kunci
dari keikhlasan. Dalam kesabaran terdapat usaha yang artinya bersabar bukanlah
kegiatan pasif. Seperti pohon beringin tua yang begitu ikhlas memayungi palang
nama itu bertahun-tahun lamanya. Tidak memikirkan keuntungan apa yang bisa dia
dapatkan. Pohon beringin tua nan setia itu adalah salah satu contoh bentuk
perwujudan keikhlasan dan cinta. Jika kamu ikhlas dalam melakukan sesuatu maka
lambat laun kamu akan mencintainya dan jika kamu berhasil melakukannya dengan
penuh keikhlasan maka bahagia adalah mutlak milikmu.”
Aku
terdiam, terhenyuk dan hampir saja kehabisan kata-kata mendengar penjelasan
Abang seniorku ini. Kata-kataku tertahan ditenggorokkan lalu tertelan dan masuk
kedalam hati lalu berkumandang dalam hati kata-kata penyemangat yang berbunyi,
“Aku Pelangi, seorang manusia yang disebut mahasiswa tahun akhir berjanji akan
mencintai skripsi ini dengan ikhlas dan sepenuh hati mengerjakannya hingga
tuntas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Terdengar seperti penggalan teks
Proklamasi Indonesia, namun semangatku saat ini memang berkobar seperti
atmosfir pada saat itu. Kutatap mata Bang Kafka dalam-dalam lalu dengan penuh
semangat kujabat tangannya sambil berkata, “Terima kasih banyak, Bang!.”
Semenjak
saat itu, hari demi hari berlalu. Kuterus coba cintai apa yang kukerjakan saat
ini hingga para Dosen pun terheran-heran melihat kemajuan skripsiku. Hingga
sampai saatnya sidang kelulusan, aku masih saja menerapkan falsafah pencapaian
cita-cita yang kudapat dari pohon beringin tua itu lewat perantara pikiranku
sendiri dan Bang Kafka. Kuat saja tidak menjamin seseorang bisa mencapai apa
yang dicita-citakannya. Keikhlasanlah sebagai jembatan penghantar pencapaian
tersebut. Pemikiran tentang keikhlasan ini tidak lagi membuatku menyebut
skripsi sebagai sebuah masalah terutama untuk mahasiswa tahun akhir. Namun aku
menyebutnya sebagai maha karya yang harus dikerjakan dengan penuh cinta dan
keikhlasan jika ingin bahagia pada akhirnya.
Saat
ini aku sudah melalui itu semua. Dua tahun yang begitu sarat makna. Benar-benar
ajang pendewasaan diri jika kita mampu melihat keterlambatan itu dengan pikiran
positif. Setelah kelulusanku, aku
mengikuti tes masuk pascasarjana disalah satu Universitas terkemuka di
Indonesia. Tuhan mendukung rencananku dan akupun lulus. Saat ini aku sedang
menekuni bidang yang sama dengan strata satuku yaitu Ilmu Susastra. Sekarang
aku punya cita-cita baru. Tidak muluk-muluk, Aku bertekad untuk menjadi
pendidik yang baik dan benar dalam bidangku. Singkatnya, cita-cita yang ingin aku capai selanjutnya adalah
mencerdaskan bangsa sesuai dengan apa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945
dan dalam mewujudkan itu aku tidak akan lupa dengan pohon beringin tua yang
telah mengajarkanku tentang arti sebuah keikhlasan dalam menggapai apa yang
dicita-citakan. Oleh karena itu, akan kugantungkan lagi cita-citaku setinggi
pohon beringin tua saja.
***