Sabtu, 28 Maret 2015

Kutahu derita kau wahai mahasiswa tahun akhir, kubuat cerpen ini untuk dikau. Bacalah, temukan semangatmu kembali!

KUGANTUNGKAN CITA-CITAKU SETINGGI POHON BERINGIN TUA SAJA
Aku seorang manusia yang dipanggil dengan sebutan ‘mahasiswa  tahun akhir’. Entah mengapa setiap orang yang memanggilku dengan sebutan ini seperti meninggalkan konotasi negatif yang merong-rong masuk lubang telingaku kemudian jatuh seperti dentuman keras menimpa gendang telingaku. Aku hanya bisa nyengir-nyengir kuda kalau sudah begitu. Merasa terhina dengan sebutan itu mengingat aku telah menghabiskan dua kali 365 ¼ hari untuk menyelesaikan sebuah maha karyanya mahasiswa yang disebut dengan ‘skripsi’. Ya kurang lebih dua tahun aku bergumul dengan rentetan aksara tak beraturan yang dengan sedikit keteraturan akan bermakna. Putus asa? Ya saat ini aku sedikit putus asa. Marah? Ya aku merasa sedikit marah. Rasanya ingin membakar seluruh gedung kampus ini hingga menjadi butiran debu.
            Sore ini tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku duduk manis di depan kantor jurusan. Memandangi pintu yang kokoh berdiri dihadapanku. Pintu itu tertutup, berharap orang yang ada di dalam segera membukakan pintu sehingga aku bisa masuk agar bisa merasakan sedikit kelegaan. Ya setidaknya kedatanganku sore ini tidak sia-sia seperti hari-hari sebelumnya. Di depan pintu itu tergantung papan kecil bertulisan, “YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK!”. Huruf kapital yang menyusun kalimat itu seolah menegaskan dan menghakimiku agar tetap duduk manis dan menahan hasratku untuk membuka gagang pintu itu sebelum dipanggil empunya ruangan. Tanda seru diakhir kalimat itu seolah menembakku tepat di kepala ‘dooorrr!!’ lalu aku berakhir sebagai mahasiswa tahun akhir di semester terakhir. Oh begitu tragisnya..
            Membayangkan betapa tragisnya nasibku bila itu terjadi membuat ku tertawa-tawa sendiri. Ya  tertawa sendiri seperti orang yang kurang waras. Aku memilih tertawa daripada menangis karena tiap tetes airmataku terlalu berharga jika hanya jatuh untuk menghadapi masalah seperti ini. Tapi apa iya ini adalah sebuah masalah? Pandanganku kemudian melayang kepada sebuah pohon beringin yang berdiri kokoh memayungi sebuah palang yang bertuliskan, “JURUSAN ILMU SUSASTRA UNIVERSITAS BAKTI NEGARA.” Sungguh merinding aku dibuatnya. Bukan karena memandangi pohon beringin yang berkemungkinan ada penghuninya, tapi memandangi tulisan di palang itu. Tulisan yang menandai tempat aku terpenjara selama ini. Tempat dimana aku hampir-hampir saja menjadi mahasiswa abadi. Kubuyarkan pikiran-pikiran negatifku dengan menegak air mineral yang sedari tadi setia menemani penantianku. Kulayangkan kembali pandanganku kepada pohon beringin yang sudah bertahun berdiri kokoh di sana. Aku bertanya-tanya apa yang membuat pohon itu begitu betah berdiri di sana selama bertahun-tahun?
           Aku terhenyuk, terdiam sendiri memikirkan pertanyaan- pertanyaan bodohku sendiri yang lalu lalang daritadi. Tidak ada teman, tidak ada siapapun di sini kecuali aku dan kegalauanku terhadap skripsi. Teman- teman sejawat sudah lama meninggalkanku. Satu persatu mereka pergi meninggalkanku sendiri di sini. Aku yang masih terpenjara dan diam tanpa kata terus berpikir dan bertanya-tanya di dalam hati. Apa iya skripsi ini sebuah masalah? Masalah yang telah mempersuram kehidupanku beberapa tahun belakangan? Ini salah siapa?, ‘Dosa siapa? Ini dosa siapa? Salah siapa? Ini salah siapa?’, begitu kata Om Ebiet.G ade dalam salah satu lirik lagunya. Aku pandangi lagi pohon beringin tua nan kokoh itu. Aku lihat diriku, seperti berkaca seluruh badan. Aku sadari sesuatu bahwa aku masih muda dan energik. Tetapi mengapa aku tidak bisa sekokoh pohon beringin tua itu? Angin semilir menerbangkan dedaunan kering dari pohon itu dan berserakan di hadapanku membuyarkan lamunan panjangku. Kuambil salah satu daun itu, ku pandangi, ku bolak-balik, lalu ku cabik-cabik. Kukendalikan pikiranku, kuambil salah satu sifat dari pohon itu. “Aku harus kuat!”, tiba-tiba hatiku berseru. Aku harus kokoh dan kuat seperti pohon beringin tua itu yang akarnya menancap kuat di tanah tempatnya berdiri. Tidak tumbang di sapu badai, tidak lekang oleh waktu. Aku harus berhenti mengeluh, yang harus aku lakukan adalah terus maju dan berjalan. Aku merasakan kupu-kupu yang banyak sedang beterbangan dan bercengkrama dalam perutku. Layaknya pasangan yang sedang  jatuh cinta pada pandangan pertama, aku mulai jatuh cinta pada skripsiku.
            Sembari gelombang cinta nan syahdu menggelitik perut dan hatiku, pohon beringin tua ini masih saja tidak luput dari pandanganku. Pertanyaan- pertanyaan bodoh pun kembali mengalir seperti hulu menemukan hilirnya. Apakah iya dengan sekadar kuat saja pohon beringin tua itu bisa bertahan? Mengapa pohon beringin tua ini begitu setia berdiri di sini? Apa yang membuatnya begitu betah di sini? Makanan? Mungkin dia bisa saja tumbuh di tempat lain yang lebih banyak air dan subur. Apa keuntungan yang di dapat oleh pohon ini? Aku tertegun kembali, memandang pohon itu hingga sampai memandang apa yang tak terlihat. Realitas yang berjarak sejengkal tetapi seperti tidak akan pernah tergapai. Tak mau ambil pusing, kulayangkan pandanganku ke bangku taman jurusan. Aku melihat kelompok anak-anak sastra dari kalangan senior. Ya mereka yang bernasib hampir sama denganku, namun lebih beruntung karena akan segera diwisuda bulan September depan. ‘September Ceria’, itulah kira-kira tembang yang pas digunakan untuk menggambarkan perasaan mereka sekarang menyambut detik-detik upacara wisuda mereka. Mungkin aku akan menggubah sebuah lirik lagu baru yang berjudul ‘September Kelabu.’
            Mereka begitu ceria, sangat kompak dan bersemangat. Aku di sini hanya sendiri, menyepi, berpikir dan bisa jadi tersingkir dari arena. Namun, kesendirianku tidak berlangsung begitu lama hingga seseorang dari mereka berlajan menghampiriku. Aku tersenyum sedangkan dia malah mencibirkan ku sambil mengejekku, “Hey! Pelangi sudah tidak lagi berwarna warni ya?” Aku tertawa simpul lalu membenarkan pertanyaan sekaligus pernyataannya, “Yap..sepertinya sekarang pelangi sudah berwarna kelabu.” Ayo saya coba warnai lagi, timpanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku pun terdiam.
            Tawanya memancingku untuk menanyakan hal yang sama kutanyakan pada diriku sendiri beberapa waktu yang lalu. “Bang Kafka, pernah kepikiran tidak mengapa pohon beringin tua yang memayungi palang nama jurusan kita itu begitu setia berdiri di sana? Apa keuntungannya buat dia? Dia bisa saja mendapatkan tempat yang lebih subur untuk tumbuh.” Bang Kafka hanya tersenyum, untuk beberapa saat kami terdiam. Aku pandangi bola matanya yang coklat terang berharap mendapatkan jawaban yang tepat sementara dia terpana memandangi pohon beringin tua itu. “Ikhlas”, jawabnya singkat. Aku terperangah kemudian kemudian aku bertanya lagi, “Bagaimana keikhlasan itu bisa tercipta Bang apalagi jika melakukan sesuatu yang membuat kita merasa terpaksa melakukannya?.” Pandangannya semakin mengerucut dan itu diarahkannya kepadaku. Betapa ciutnya nyaliku melihat tatapan dari mata elangnya yang tajam.
            Dia menjawab pertanyaanku dengan nada tenang nan pasti, “Kesabaran adalah kunci dari keikhlasan. Dalam kesabaran terdapat usaha yang artinya bersabar bukanlah kegiatan pasif. Seperti pohon beringin tua yang begitu ikhlas memayungi palang nama itu bertahun-tahun lamanya. Tidak memikirkan keuntungan apa yang bisa dia dapatkan. Pohon beringin tua nan setia itu adalah salah satu contoh bentuk perwujudan keikhlasan dan cinta. Jika kamu ikhlas dalam melakukan sesuatu maka lambat laun kamu akan mencintainya dan jika kamu berhasil melakukannya dengan penuh keikhlasan maka bahagia adalah mutlak milikmu.”
            Aku terdiam, terhenyuk dan hampir saja kehabisan kata-kata mendengar penjelasan Abang seniorku ini. Kata-kataku tertahan ditenggorokkan lalu tertelan dan masuk kedalam hati lalu berkumandang dalam hati kata-kata penyemangat yang berbunyi, “Aku Pelangi, seorang manusia yang disebut mahasiswa tahun akhir berjanji akan mencintai skripsi ini dengan ikhlas dan sepenuh hati mengerjakannya hingga tuntas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Terdengar seperti penggalan teks Proklamasi Indonesia, namun semangatku saat ini memang berkobar seperti atmosfir pada saat itu. Kutatap mata Bang Kafka dalam-dalam lalu dengan penuh semangat kujabat tangannya sambil berkata, “Terima kasih banyak, Bang!.”
            Semenjak saat itu, hari demi hari berlalu. Kuterus coba cintai apa yang kukerjakan saat ini hingga para Dosen pun terheran-heran melihat kemajuan skripsiku. Hingga sampai saatnya sidang kelulusan, aku masih saja menerapkan falsafah pencapaian cita-cita yang kudapat dari pohon beringin tua itu lewat perantara pikiranku sendiri dan Bang Kafka. Kuat saja tidak menjamin seseorang bisa mencapai apa yang dicita-citakannya. Keikhlasanlah sebagai jembatan penghantar pencapaian tersebut. Pemikiran tentang keikhlasan ini tidak lagi membuatku menyebut skripsi sebagai sebuah masalah terutama untuk mahasiswa tahun akhir. Namun aku menyebutnya sebagai maha karya yang harus dikerjakan dengan penuh cinta dan keikhlasan jika ingin bahagia pada akhirnya.
            Saat ini aku sudah melalui itu semua. Dua tahun yang begitu sarat makna. Benar-benar ajang pendewasaan diri jika kita mampu melihat keterlambatan itu dengan pikiran positif.  Setelah kelulusanku, aku mengikuti tes masuk pascasarjana disalah satu Universitas terkemuka di Indonesia. Tuhan mendukung rencananku dan akupun lulus. Saat ini aku sedang menekuni bidang yang sama dengan strata satuku yaitu Ilmu Susastra. Sekarang aku punya cita-cita baru. Tidak muluk-muluk, Aku bertekad untuk menjadi pendidik yang baik dan benar dalam bidangku. Singkatnya, cita-cita yang  ingin aku capai selanjutnya adalah mencerdaskan bangsa sesuai dengan apa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan dalam mewujudkan itu aku tidak akan lupa dengan pohon beringin tua yang telah mengajarkanku tentang arti sebuah keikhlasan dalam menggapai apa yang dicita-citakan. Oleh karena itu, akan kugantungkan lagi cita-citaku setinggi pohon beringin tua saja.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar